
Kintsugi: Memaknai Retakan Kehidupan
Memaknai Retakan Kehidupan karya Prof. Amsal Bakhtiar dan Dani Ramdani merupakan refleksi filosofis yang memadukan filsafat, sastra, pengalaman hidup, dan
Mazhab Ciputat menghadirkan kumpulan buku dan publikasi yang ditulis oleh para tokoh dan peneliti, sebagai upaya mendiseminasikan pengetahuan yang terbuka dan inklusif. Melalui laman ini, Anda dapat mengakses karya-karya monumental yang merekam perjalanan intelektual, pemikiran kritis, serta gagasan pembaruan sosial-keagamaan yang lahir dari warisan intelektual Mazhab Ciputat. Semua publikasi tersedia secara gratis, sebagai bagian dari komitmen kami dalam mendorong literasi, dialog, dan penguatan tradisi akademik.

Memaknai Retakan Kehidupan karya Prof. Amsal Bakhtiar dan Dani Ramdani merupakan refleksi filosofis yang memadukan filsafat, sastra, pengalaman hidup, dan

Sejalan dengan kedalaman studi, kekayaan pengalaman dan reputasi internasional penulisnya, buku ini mengombinasikan teori-teori perdamaian serta resolusi konflik dan penerapan

Buku ini merekam pergolakan pemikiran dan pengalaman berislam sejumlah intelektual muda yang diinspirasi corak pembaharuan Wahib. Mereka adalah lima finalis

Buku ini ditulis oleh 30 anak muda dari berbagai latar belakang pendidikan, minat dan profesi. Dalam bentuk esai pendek yang

Seperti mewakili perasaan banyak orang, dalam buku ini Buya Ahmad Syafii Maarif secara terbuka menelanjangi ancaman kekerasan oleh kelompok Islam

Sebagai sebuah kajian sosiologis yang fundamental, buku ini mendefinisikan dan menemukan subjeknya sendiri. Fokusnya adalah pada “inteligensia” Muslim Indonesia. Sebagai

Buku ini memberikan penjelasan mengenai pluralitas yang harus diutamakan termasuk dalam melihat Islam: ”Islamku, Islam Anda, Islam Kita”. Tak ada

Buku ini membahas hubungan politik antara Islam dan negara di Indonesia. Penulisannya diilhami terutama oleh fenomena yang mengejutkan bahwa sejak

Ahmad Wahib (1942-1973) – wartawan, budayawan dan pemikir Indonesia yang konsisten merakam pengelutan pemikirannya atas meja di sebuah bikil sewa

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah hasil penyuntingan lebih dari 15 tahun kerja intelektual dan pengajaran Prof. Dr.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah hasil penyuntingan lebih dari 15 tahun kerja intelektual dan pengajaran Prof. Dr.

Buku yang ada di tangan pembaca ini adalah hasil penyuntingan lebih dari 15 tahun kerja intelektual dan pengajaran Prof. Dr.
Hayy Ibn Yaqzan karya Ibn Sina adalah alegori filosofis tentang perjalanan intelektual dan spiritual seorang manusia yang bertemu dengan Hayy Ibn Yaqzan, sosok yang lahir dari kecerdasan murni dan kebijaksanaan. Melalui dialog mendalam, tokoh utama belajar tentang prinsip-prinsip filsafat seperti hubungan materi dan bentuk, perjalanan akal menuju kesempurnaan, dan pengendalian diri. Karya ini menggambarkan bagaimana pengetahuan dan kebijaksanaan membawa seseorang mencapai pencerahan sejati dan bersatu dengan Sang Pencipta, mencerminkan pencarian kebenaran dan tujuan hidup dalam konteks keesaan Tuhan.
Buku ini membahas konsep cinta (al-‘ishq) dalam mistisisme Ibn Sina, yang memadukan filsafat dan tasawuf. Cinta dipahami sebagai prinsip universal yang menjadi dasar keberadaan dan pergerakan makhluk, bersumber dari Tuhan sebagai Kesempurnaan Mutlak. Setiap makhluk, berjiwa maupun tidak, terdorong oleh cinta untuk mencapai kesempurnaan dan bersatu dengan Tuhan. Seorang Arif, melalui cinta sejati dan pengetahuan tentang Tuhan, meraih kebahagiaan tertinggi yang disebut kebahagiaan intelektual. Penulis menunjukkan bahwa meskipun Sina dikenal sebagai filosof rasional, ia juga memiliki sisi esoteris sufistik.
Buku Filsafat Ilmu: Panduan untuk Pemula memperkenalkan dasar-dasar filsafat dan ilmu pengetahuan. Terdiri dari 14 bagian, isinya meliputi Pokok-Pokok Filsafat Ilmu, Sejarah Perkembangan, Subjek-Objek Pengetahuan, serta alat pengetahuan seperti indera, akal, dan intuisi. Teori Kebenaran—Koherensi, Korespondensi, dan Pragmatisme—beserta madzhab epistemologi seperti Rasionalisme dan Empirisme juga dijelaskan. Buku ini turut membahas hubungan Kebenaran Agama dan Filsafat dengan memadukan perspektif Barat dan Islam. Karya ini ditujukan bagi mahasiswa maupun pemula untuk membuka wawasan filsafat ilmu.
Ketakutan berlebihan terhadap kematian (thanatophobia) muncul karena ketidaktahuan dan prasangka keliru. Banyak orang membayangkan jiwa akan lenyap atau tubuh merasakan sakit setelah mati, padahal Ibn Sina menegaskan rasa sakit hanya terjadi saat jiwa masih terikat. Kekhawatiran lain terkait dosa, hukuman, serta kehilangan harta & kenikmatan duniawi, meski bukan bagian dari kematian. Dalam al-Khauf min al-Maut, Ibn Sina menegaskan bahwa ketakutan lahir dari kebodohan dan kesalahpahaman, sementara kematian sejatinya adalah transisi menuju kebahagiaan jiwa.
Buku ini membahas hakikat kesedihan menurut Ibn Sīnā sebagai penderitaan psikis akibat kehilangan sesuatu yang dicintai atau kegagalan meraih yang diinginkan. Setiap manusia pasti mengalaminya karena keterikatan pada hal-hal duniawi yang fana. Ibn Sīnā menekankan bahwa kesadaran akan kefanaan dunia dapat mencegah manusia terjebak dalam kesedihan mendalam. Solusinya adalah mengalihkan cinta dari duniawi menuju hal-hal abadi dan akal, yang tidak pernah lenyap, sehingga manusia bisa menemukan makna dari kebijaksanaan, ketenangan sejati, serta kebebasan batin yang hakiki.
Mi’rāj Nāma adalah risalah tentang Isrā Mi’rāj yang menjelaskan perjalanan spiritual Nabi Muhammad dari sudut pandang filsafat, teologi, dan mistisisme. Ditulis Abu ‘Ali ibn Sina pada masa pengabdiannya kepada ʿAlaʾ al-Dawla Kakuyid di Isfahan. Melalui kisah Mi’rāj, Ibn Sina berusaha menggambarkan interaksi akal manusia dengan kecerdasan kosmik, menjelaskan hubungan manusia dengan dunia spiritual melalui simbol alegoris-filosofis. Ia juga menerangkan bagaimana pengalaman Mi’rāj memberikan wawasan hakikat realitas spiritual lebih tinggi, Allah sebagai Wujud Niscaya.
Risalah al-Tayr (Kisah burung yang terperangkap lalu berjuang mencari kebebasan sejati) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dani Ramdani merupakan kisah perjalanan burung-burung menuju gunung yang melambangkan puncak dari kebijaksanaan dan menuju kesempurnaan. Dalam perjalanannya, mereka menghadapi berbagai rintangan penuh ujian, namun dengan tekad, kesabaran, dan keyakinan akhirnya sampai tujuan mulia. Melalui alegori ini, Ibn Sina menjelaskan perjuangan manusia mencari kebebasan dan kesempurnaan sejati yang hakiki.
Ilmu Etika: Keutamaan Menuju Kesempurnaan Jiwa, yang aslinya berjudul Fī ‘Ilm al-Akhlāq karya Ibn Sina, membahas cara menyempurnakan jiwa melalui keutamaan etika. Ia menjelaskan dua kekuatan utama dalam diri manusia: kekuatan teoretis, dicapai melalui ilmu pengetahuan, dan kekuatan praktis, diwujudkan lewat empat keutamaan, yakni kesucian diri, keberanian, kebijaksanaan, dan keadilan. Keempatnya menjadi dasar karakter mulia yang dibentuk dalam kehidupan. Buku ini bukan hanya panduan etika, tetapi juga ajakan transformasi menuju kesempurnaan jiwa.
Ilmu Laduni: Menyingkap Rahasia Ilmu Ilahi yang Tersembunyi membahas pengetahuan ilahi yang diperoleh langsung dari Tuhan tanpa proses belajar biasa. Ibn Sina menekankan perbedaan ilmu hasil usaha manusia dengan ilmu laduni yang diturunkan, serta peran jiwa murni dalam menerimanya. Buku ini menyoroti wahyu, ilham, dan kedudukannya dalam membimbing manusia menuju pemahaman spiritual serta hakikat kehidupan yang lebih mendalam, penuh makna, membawa cahaya, dan membangkitkan kesadaran akan kebenaran hakiki serta keindahan yang transendental.
Dalam buku ini, Ibn Sina membawa kita pada perjalanan spiritual mendalam, yaitu menyingkap lapisan-lapisan makna yang tersembunyi di balik ibadah salat. Salat sering kali dipandang hanya sebagai ibadah kewajiban harian, namun Ibn Sina menunjukkan bahwa salat adalah cara untuk membangun hubungan langsung dan penuh cinta dengan Sang Pencipta; Berasyik Masyuk dengan-Nya (al-munājat). Ibn Sina memadukan pendekatan spiritual dan rasional untuk memberikan pemahaman yang utuh, memaknai salat bukan hanya sebagai tindakan fisik semata, melainkan juga sebagai penyatuan pikiran, jiwa, dan hati dalam kehadiran Tuhan.