(Cerita pendek ini ditulis oleh Donkisot, penulis dapat dihubungi melalui maman89ahwar@gmail.com)
Mari kita namai saja tokoh utama cerita pendek ini adalah ‘Kanda’ kita tercinta. Di mana pun ia berada, segera ia dikenali dan disalami oleh adik-adik yuniornya. Dan ia akan mengajak mereka duduk, sembari disuguhi kopi dan rokok bahkan nanti ada uang pula untuk ongkos pulang. Tapi jangan lupa, siap-siaplah bersabar untuk mendengar bualan sang ‘Kanda’ kita ini. Dengan isyarat anggukan yang meyakinkan dan kata-kata sanjungan (oh keren, betul kanda, mantap, manyala), itu jauh lebih baik dan sangat direkomendasikan.
Setiap kali bukunya rampung, ia tersenyum puas. Bukunya yang ke-100 sudah rampung. Sang editor, duduk di sampingnya, tengah memeriksa keseluruhan isi buku yang terakhir. Ia bertindak sebagai proof reader, tukang layout, pemberi masukan ilustrasi sampul buku, memilih kata-kata mana yang layak ditonjolkan di bagian sampul belakang buku, memikirkan topik-topik bahasan, judul buku (walau pun akhirnya menunggu anggukan akhir sang kanda), mengatur deadline tulisan (tak ada toleransi untuk keterlambatan, semua penulis hantu berpacu dengan waktu, ya seminggu kelar beberapa tulisan) dan lain-lain.
Oh ya, ini jangan dilupakan. Sang editor kita juga nyambi tugas sebagai penyambung lidah para penulis hantu.
“Penuhi hak mereka sesegera mungkin sebelum keringat mereka kering,” begitulah cara ia menekan dengan gaya diplomatis kepada kanda tercinta kita. Meski diplomatis, tapi itu tegas. Sebab ia punya prinsip: penuhi hak mereka sebelum keringatnya kering.
Kesejahteraan seluruh para penulis hantu terjamin. 750 ribu untuk satu artikel. Sehingga setiap kali tulisan rampung, mereka – para penulis hantu ini – berkumpul di warung kopi Gelas Cangkir sembari menikmati varian kopi premium, menceritakan santai proses tulisan mereka atau obrolan lain dan sudah tentu saja dengan tawa yang lepas. Jelas saja, tawa itu menyiratkan tanda: amplop dengan beberapa lembar merah bergambar Soekarno-Hatta tersaji di atas meja, di depan muka masing-masing mereka. Sebuah kebahagiaan bagi mereka yang bisa menulis. Mereka menukar tulisan dengan uang.
Maka di meja ke meja di mana para penulis hantu itu berkumpul, berbagai bualan senang bertumpahan.
“Ah rasanya hidup di perantauan jadi begini mudah. Uang mengalir lancar,” ia baru membuka amplop di depannya.
“Menulis! Menulis! Menulis itu adalah kerja keabadian, bung,” timpal kawan di sampingnya yang baru memasukkan beberapa lembar uang ke tasnya, dan menyisakan beberapa lembar lain di dompetnya.
“Ah, itu kata-kata Pram (Pramoedya Ananta Toer). Buat kita, menulis adalah kerja cari uang,” timpal yang lain lagi, sosok di seberangnya. Ia melontarkan ucapan itu sambil memilah-milah uangnya. Bayaran kos sudah jatuh tempo. Hutang di warteg sudah menggunung. Tapi ia senang. Tak lama lagi, ia akan menulis lagi.
*
Malam itu – dan malam-malam yang lain dalam pesta gajian penulis hantu – terbayang sebagai malam yang indah. Sampai-sampai ada yang menganggap menjadi penulis hantu adalah sebuah kemewahan. Ia bisa bergentayangan ke mana-mana, singgah dalam tulisan orang lain. Saat kau membaca tulisan sendiri, dan mendapati nama orang lain sebagai penulis di situ, dengan gelar tertentu, orang besar, maka dirinya seakan ‘sederajat’ dengan orang itu. Ia pun terkekeh-kekeh membayangkan pembaca yang polos membaca tulisannya dan mengangguk-angguk yakin dengan argumen tulisan itu lantaran melihat nama penulisnya.
“Kau tahu, apa yang absurd dalam dunia penulisan, kadang orang menghargai tulisan itu lantaran nama sang penulis. Bayangkan, kalau dia tahu kalau sang penulis menyewa penulis hantu, betapa kecewanya mereka. Hahaha.”
Di tangannya tak terlihat ia memegang uang. Rupanya ia tak mau terima cash. Ia maunya ditransfer. Dia baru bikin atm, sesuatu yang ia bangga-banggakan. Sebab seumur hidupnya, baru kali ini punya atm. Ia sudah beberapa hari belajar cara mengambil uang di atm. Dan nanti ia akan mempraktikannya: mengambil uang gajian kerja penulis hantu dari atm. Wow, betapa lengkapnya kebahagiaan itu.
“Ya, itu tepat sekali. Aku pernah menulis dengan nama seorang profesor. Dan tau nggak, tulisan itu dipuji-puji. Bukan karena tulisannya, tapi karena mereka menghargai sang profesor. Aku ketawa membayangkan apa jadinya kalau dia tahu kalau penulisnya bukan seorang profesor, tapi aku ini.”
Orang itu ketawa senang. Tawanya mengundang tawa yang lain di meja itu. Sembari menaruh jari di bibirnya, isyarat tenang atau diam, ia melanjutkan:
“Mungkin dia akan berubah total. Dia akan mengoreksi kekagumannya.”
*
Di meja yang lain, seorang junior sedang mengingat ceramah seniornya persis pada sesapan ketiga puluh.
“Begini Dinda, abang ini tak bisa memberimu apa-apa untuk solusi keuangan. Tapi kalau Dinda bisa menulis, hanya itu cara mudah abang kasih solusi.”
Ia tersenyum senang mengingat itu. Ia puas sudah bisa memacu dirinya hingga bisa bergabung dengan penulis hantu. Dua, tiga sesap kopi premium membuat kepuasannya semakin melayang.
“Menjadi penulis hantu ternyata senikmat ini,” ia tertawa.
“Bung, besok ada tugas presentasi,” ganggu kawan di sampingnya.
“Goblok! Kau tahu aku sedang menikmati malam kebahagiaanku sebagai penulis hantu.”
Ia lanjut minum lagi.
Di meja lain lagi, seorang pemuda menjelang tua pikiran dan fisiknya tengah membayangkan masa depan. Ia salah seorang penulis hantu yang lebih senior di antara yang lainnya di lingkaran itu. Ia putuskan adiknya masuk kampus swasta seharga 8 juta. Ia juga tersenyum bangga pada dirinya. Pekerjaan besar, menulis 100 buku untuk Kanda tercinta sudah rampung, pikirnya sambil menikmati kopi.
Sang editor akhirnya memberi isyarat memohon izin untuk mulai menjelaskan detail proyek penulis hantu itu. Kanda kita pun menyimak. Ia mengangguk puas dan menepuk-nepuk punggung si editor. Ia senang dengan kerja para penulis hantunya yang kini benar-benar telah menjadi hantu.
*
Para penulis itu menghilang. Raib entah ke mana. Tapi rasanya tidak jauh raibnya. Kadang mereka seperti bergentayangan. Sang Kanda tercinta itu kadang merasa para penulis hantunya datang ke kediamannya.
Desas-desus yang tak bisa diharapkan lebih jelas kebenarannya, di sebuah tempat bekas warung kopi ‘Gelas Cangkir’ berada, terdengar gelak tawa, obrolan-obrolan intelektual tentang sebuah proyek penulisan. Kadang, desas-desus itu bilang, terdengar dentingan gelas, aroma-aroma kopi berbagai daerah dengan variasi teknik, dan suara lantunan musik.
Tapi itu sudah lama sekali. Dulu sekali. Kini orang sudah lupa sama sekali bahwa pernah ada tempat ngopi bernama ‘Gelas Cangkir’. Orang juga lupa bahwa dulu ada sekelompok penulis hantu yang sangat terkenal. Bahkan tentang Gelas Cangkir dan penulis hantu seakan dua hal yang hanya ada dalam dongeng.
*
Gelas Cangkir penuh aroma kopi racikan dari berbagai jenis kopi. Dibuat dengan berbagai teknik. Selalu saja dibuat tanpa gula. Ada yang pahit bercampur asam. Ada pahit saja. Ada pula yang dicampur susu kental manis.
Ada satu ruangan khusus orang-orang berkumpul. Obrolan mereka terdengar begitu intelektual bagi orang yang mendengar sepintas. Tapi sebenarnya mereka sekedar berbicara uang dan proyek jangka panjang. Tapi dalam waktu satu tahun, orang baru menyadari bahwa warung itu kian kehilangan aura keramaiannya. Ternyata ada saja yang jeli menandai soal itu. Yakni selama satu tahun itu, tak ada lagi penulis hantu yang berkumpul di sana.
“Kemana para penulis hantu itu?”
Pertanyaan itu tak pernah terjawab. Pelayan Gelas Cangkir yang paling penasaran dan bertanya-tanya hingga suatu hari, warung itu mendadak bangkrut begitu saja. Disusul dengan perubahan beberapa kali: warung itu ganti nama, ganti pemilik, hingga akhirnya tutup sepenuhnya. Lama-lama tak ada lagi yang bertanya.
*
Namanya Don atau Dan. Sebetulnya nama panjangnya bisa dieja Don-i atau Dan-i. Tapi ia tak ingin huruf i disebutkan. Itu hanya akan menghilangkan kesan kerennya. Ialah seorang pemimpin penulis hantu.
“Ayo, pesan minuman,” itu jelas sebuah instruksi dari Don atau Dan. Suara seperti itu sudah pasti menyenangkan di telinga anak buah-buah.
Jangan tunggu dua kali. Sekali ada suara itu, pesan apapun. Itu prinsip para anak buah penulis hantu. Mereka tahu, kesempatan yang sekali harus direbut sebaik-baiknya. Di kosan, tak ada kopi premium, dan berbagai santapan enak.
Para penulis hantu ini berasal dari orang-orang yang sedikit punya sedikit keahlian, tapi besar semangat. Pendorong utamanya tentu saja soal suara paling jujur dari perut.
…Ah, masih banyak yang ingin aku ceritakan. Sebutlah ini kisah yang belum selesai.